Minggu, 26 Oktober 2014

Alasan Mengapa Tepung Terigu Lebih Mudah Diolah Jadi Mie Instan



Ini Alasan Mengapa Tepung Terigu Lebih Mudah Diolah Jadi Mie Instan
Pusat Penelitian Dan Pengembangan Tanman Pangan Kementerian Pertanian Republik Indonesia
Bagi anda yang sering mengonsumsi mie instan, martabak atau roti mungkin pernah muncul pertanyaan mengapa tepung terigu yang dijadikan bahan utama, bukan tepung beras, atau tepung jagung. Jawabannya dapat dilihat pada gambar di bawah ini, menggunakan mikroskop polarisasi dengan perbesaran 1000 kali menunjukkan bahwa granula pati terigu lebih kompak dengan berbagai variasi ukuran dibandingkan granula pati jagung yang tidak kompak/terpisah-pisah. Granula pati jagung mempunyai ukuran granula yang cukup besar dan tidak homogen yaitu 1-7μm untuk yang kecil dan 15-20 μm untuk yang besar. Granula besar berbentuk oval polyhedral dengan diameter 6-30 μm. Sedangkan granula pati gandum ukuran normalnya adalah18 µm, granula yang lebih besar berukuran rata-rata 24 µm dan granula yang lebih kecil berukuran 7-8 µm, secara umum berkisar 2-35 µm. Bentuk granulanya bulat (lonjong) cenderung berbentuk ellips. Rasio kadar amilosa dan amilopektinnya adalah 1:3 atau sebesar 25%:75%. Bentuk granula yang kecil dan kompak memungkinkan terigu untuk tetap elastis saat diolah atau dibentuk menjadi adonan. Adapun jagung, granula patinya kurang kompak dan terpisah-pisah sehingga kurang elastis dan sulit dibentuk menjadi adonan kecuali dengan substitusi dengan tepung terigu pada perbandingan tertentu.

Keunggulan lain yang dimiliki oleh terigu adalah komposisi proteinnya yang unik yaitu terdapatnya zat prolamin (gliadin) dan glutelin (glutenin) yang digolongkan sebagai protein pembentuk gluten. Protein tepung terigu memiliki struktur yang unik, seperti yang disebutkan dalam Desrosier (1988), bila tepung terigu dicampur dengan air dalam perbandingan tertentu, maka protein akan membentuk suatu massa atau adonan koloidal yang plastis yang dapat menahan gas dan akan membentuk suatu struktur spons bila dipanggang. Karakteristik tepung terigu ini, yang memungkinkan pembuatan roti tawar yang lunak tidak dijumpai dalam butir serealia lain.

Sumber: Balai Penelitian Tanaman Serealia

Sabtu, 25 Oktober 2014

Kutu Kebul Bemisia tabaci: Aleyrodidae Hama Penting Pada Tanaman Kedelai



Kutu Kebul Bemisia tabaci: Aleyrodidae Hama Penting Pada Tanaman Kedelai
Pusat Penelitian Dan Pengembangan Tanman Pangan Kementerian Pertanian Republik Indonesia
Salah satu gangguan dalam meningkatkan produksi kedelai adalah karena serangan hama. Berdasarkan hasil identifikasi dari 9 jenis serangga hama pemakan daun, serangga kutu kebul Bemisia tabaci adalah salah satu jenis hama yang sangat penting, karena disamping sebagai hama tanaman juga sebagai serangga hama pembawa virus. Kutu kebul mampu menularkan berbagai penyakit virus seperti Cowpea Mild Mottle Virus (CPMMV), pada tanaman kedelai. Kutu kebul termasuk  dalam  ordo: Homoptera, Famili: Aleyrodidae, Genus: Bemisia dan spesies: tabaci. Hama ini bersifat polifag (mempunyai banyak jenis tanaman inang) sehingga sulit dikendalikan. Hama ini dapat menyerang tanaman dari famili Compositae (letus, krisan), Cucurbitaceae (mentimun, labu, labu air, pare, semangka dan zuchini), Cruciferae (brokoli, kembang kol, kubis, lobak), Solanaceae (tembakau, terong, kentang, tomat, cabai) dan Leguminoceae (kedelai, kacang hijau, kacang tanah, buncis, kapri). Selain itu Bamisia tabaci juga mempunyai inang selain tanaman pangan yaitu pada tanaman gulma babadotan (Ageratum conyzoides). Penelitian lain juga menyebutkan kutu kebul ditemukan pada Ipomoespp.

Perkembangan populasi hama kutu kebul dipicu antara lain oleh perubahan suhu udara (semakin kering udara, semakin meningkat populasi hama kutu kebul), waktu tanam yang tumpang tindih dalam suatu areal, varietas kedelai yang peka, kelembaban udara dan tanah, dan pola pengendalian dengan insektisida). Kehilangan hasil akibat serangan hama kutu kebul ini dapat mencapai 80%, bahkan pada serangan berat dapat menyebabkan puso (gagal panen). Sampai kini, sebagian besar pengendalian hama kutu kebul pada tanaman kedelai di tingkat petani masih mengandalkan insektisida, namun demikian masih sering kali gagal. Pengendalian hama kutu kebul dapat dilakukan dengan berlandaskan strategi penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Dengan menggunakan komponen pengendalian yang kompatibel termasuk waktu tanam, varietas tahan, musuh alami, tanaman perangkap/penghalang jagung, aplikasi pestisida yang berlandasan pada asas ekologi dan ekonomi diharapkan pengendalian kutu kebul akan lebih efektif.

Komponen-komponen pengendalian hama kutu kebul yang dapat diaplikasikan dalam penerapan PHT pada tanaman kedelai khususnya untuk pengendalian hama kutu kebul adalah:

1. Pemanfaatan pengendalian alami dengan mengurangi tindakan-tindakan yang dapat merugikan atau mematikan perkembangan musuh alami.  Penyemprotan dengan dosis insektisida yang berlebihan maupun frekuensi aplikasi yang tinggi akan mengancam populasi musuh alami (parasitoid dan predator). Tercatat 75  spesies telah dideskripsi sebagai predator pada kutu kebul, akan tetapi hanya spesies tertentu yang mampu menurunkan populasi kutu kebul.

2. Pengendalian fisik dan mekanik yang bertujuan untuk mengurangi populasi hama, mengganggu aktivitas fisiologis hama yang normal, serta mengubah lingkungan fisik menjadi kurang sesuai bagi kehidupan dan perkembangan hama. Tindakan penyiangan gulma, pengairan atau perbaikan pola tanam dapat membantu mengurangi populasi dan perkembangan hama.

3. Pengelolaan ekosistem melalui : bercocok tanam, yang bertujuan untuk membuat lingkungan tanaman menjadi kurang sesuai bagi kehidupan dan pembiakan atau pertumbuhan serangga hama dan penyakit serta mendorong berfungsinya agensia pengendali hayati. Beberapa teknik bercocok tanam antara lain :

a) Penanaman varietas toleran terhadap kutu kebul seperti Detam 1, Detam 2, Wilis, Gepak Kuning, Gepak ijo, Kaba, dan Argomulyo.  Untuk daerah endemis kutu kebul tidak disarankan menanam varietas Anjasmoro. Pada kondisi populasi kutu kebul tinggi perlu dibantu dengan aplikasi insektisida

b) Penanaman benih sehat yang berdaya tumbuh baik, benih yang sehat akan tumbuh menjadi tanaman yang sehat pula.  Pada tanaman yang sehat akan mampu mempertahankan diri dari serangan hama, dengan kemampuan tumbuh kembali (recovery) yang lebih cepat.

c) Pergiliran tanaman untuk memutus siklus hidup hama.  Pergiliran tanaman dengan menanam tanaman bukan inangnya pada pola tanaman sebelum atau sesudah tanaman kedelai, merupakan usaha untuk memutus siklus hama agar populasi hama kutu kebul tidak dapat meningkat dengan cepat.

d) Sanitasi membersihkan tanaman inang di sekitar kebun, sisa-sisa tanaman atau tanaman lain yang dapat dipakai sebagai inang. Rotasi tanaman dengan tanaman non inang juga dianjurkan.

e) Waktu tanam yang tepat diusahakan dalam satu hamparan tanam serempak atau selisih waktu tanam tidak boleh lebih dari 10 hari. Hindari waktu tanam yang tumpang tindih dari satu area tanam kedelai yang luas. Perbedaan waktu dan stadia tanaman dalam area yang luas akan mendorong pertumbuhan populasi hama. Hal ini menyebabkan ketersediaan makanan bagi hama kutu kebul terus ada  sepanjang waktu. Populasi hama meningkat dengan cepat karena ketersediaan makanan hama yang sesuai, sebagai akibat kegiatan manusia membudidayakan tanaman kedelai pada areal luas dan dilakukan secara terus menerus.

f) Penanaman tanaman penghalang atau penolak dengan tujuan menghambat penerbangan/ migrasi hama, misalnya: penanaman jagung pada areal pertanaman kedelai untuk menghalangi atau mengganggu migrasi hama kutu kebul. Tanaman penghalang (barier) dengan tanaman jagung yang rapat dapat membantu mengurangi migrasi kutu kebul.

4. Penggunaan agensia hayati (Pengendalian Biologis).  Pengendalian biologis pada dasarnya adalah pemanfaatan dan penggunaan musuh alami untuk mengendalikan hama.  Musuh alami yang terdiri dari parasitoid, predator dan patogen serangga hama merupakan agens hayati yang dapat dipakai sebagai alat pengendalian hama kutu kebul.  Predator kutu kebul dari famili Anthocoridae, Coccinelidae, Chrysopidae, Hemerobiidae dan kebanyakan Miridae tidak mampu menjaga populasi kutu kebul di bawah ambang ekonomi di rumah kaca, meskipun demikian predator dari genera Macrolopus atau Dicyphus diketahui mampu menurunkan populasi kutu kebul. Cendawan dari golongan entomophtorales juga ditemukan mampu menginfeksi kutu kebul antara lain Conidiobolus spp., Entomopthora spp. dan Zoophthora spp.

5. Pestisida nabati atau kimiawi secara selektif untuk mengembalikan populasi hama pada asas keseimbangannya. Banyak insektisida yang telah digunakan untuk mengendalikan B. tabaci seperti acetamiprid, buprofezin dan diafenthiuron, carbosulfan. Akan tetapi pengendalian dengan insektisida imidacloprid, thiamethoxam, pyriproxyfen, buprofezin, pyridaben dan  pymetrozin  tidak mampu mengendalikan hama kutu kebul  dan aplikasi insektisida dilaporkan juga menimbulkan resitensi pada hama ini.   Serbuk biji mimba efektif mengendalikan hama kutu kebul. Keputusan tentang penggunaan pestisida  kimiawi dilakukan setelah diadakan analisis ekosistem terhadap hasil pengamatan dan ketetapan tentang ambang kendali. Pestisida yang dipilih harus yang efektif dan telah diizinkan.

Sumber: Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Ubi

Jumat, 24 Oktober 2014

Bulai: Penyakit Utama pada Tanaman Jagung



Bulai: Penyakit Utama pada Tanaman Jagung
Pusat Penelitian Dan Pengembangan Tanman Pangan Kementerian Pertanian Republik Indonesia
Bulai merupakan penyakit utama tanaman jagung yang menjadi ancaman bagi pengembangan jagung di Indonesia. Penyakit bulai menjadi perhatian serius karena penyebarannya tidak hanya di Indonesia, namun hingga ke berbagai negara di Amerika, Afrika, Eropa, Australia dan Asia lainnya seperti India, Thailand dan Filipina. Terdapat sepuluh cendawan penyebab penyakit bulai dan di Indonesia  disebabkan oleh tiga spesies cendawan yaitu Peronosclerospora maydis dan Peronosclerospora philippinensis dan Peronosclerospora sorghii. Serangan bulai telah menyebar hamper di seluruh provinsi di Indonesia. Kehilangan hasil bias mencapai 100% (puso) jika infeksi bulai terjadi pada varietas yang tidak mempunyai ketahanan terhadap bulai (rentan) di awal vegetatif. Outbreak penyakit bulai pernah terjadi di beberapa wilayah antara lain Kab. Tegal (Jateng), Kediri dan Jombang (Jatim), Bengkayang (Kalbar), Simalungun dan Berastagi (Sumut).

Fase kritis terjadi infeksi cendawan penyebab penyakit bulai terjadi antara 0 – 14 hari setelah tanam (HST) dan bahkan hingga mencapai 5 minggu setelah tanam (MST). Gejala khas bulai adalah munculnya khlorotik yang memanjang sejajar tulang daun dengan batas yang jelas antara bagian daun terinfeksi dan daun sehat. Di permukaan atas dan bawah daun terdapat warna putih seperti tepung yang biasanya sangat jelas terlihat pada pagi hari. Pertumbuhan tanaman terhambat, termasuk pembentukan tongkol atau bahkan tidak terbentuk tongkol, daun-daun yang bergejala khlorotik menjadi sempit dan kaku, kadang-kadang menggulung dan terpelintir serta bunga jantan berubah menjadi massa daun yang berlebihan. Gejala sistemik terjadi bila infeksi cendawan mencapai titik tumbuh sehingga semua daun yang terbentuk akan terinfeksi. Tanaman yang terinfeksi pada saat umur masih muda, umumnya tidak akan menghasilkan buah. Bila terinfeksi pada tanaman yang sudah tua, masih terbentuk buah namun terhambat pertumbuhannya dan kerdil.

Berbagai komponen pengendalian penyakit bulai yang perlu dilakukan antara lain: 1) menanam varietas yang tahan penyakit bulai (Bima 1, Bima 3, Bima 9, Bima 14, Bima 15, Bima 16, Bima 17 Bima 18, Gumarang, Lagaligo, Lamuru, Srikandi dan Sukmaraga); 2) pengaturan waktu tanam yaitu dengan menentukan periode waktu yang bebas tanaman jagung minimal dua minggu sampai satu bulan untuk menghindari terjadinya infeksi pada fase kritis; 3) penanaman jagung secara serempak untuk mencegah dan menekan terjadinya penularan dan penyebaran penyakit; 4) pemusnahan  seluruh bagian tanaman yang telah terinfeksi serta berbagai tumbuhan lain yang menjadi ianang alternatif cendawan penyebab penyakit bulai (eradikasi sumber inokulum)dan 5) penggunaan fungisida  berbahan aktif metalaksil pada benih jagung (perlakuan benih) dengan dosis 2 gram (0,7 g bahan aktif) per kg benih.

Sumber: Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan

Kamis, 23 Oktober 2014

Transformasi SL-PTT Menjadi GP-PTT Padi, Jagung dan Kedelai


Transformasi SL-PTT Menjadi GP-PTT Padi, Jagung dan Kedelai
Pusat Penelitian Dan Pengembangan Tanman Pangan Kementerian Pertanian Republik Indonesia
Dalam rangka meningkatkan kualitas pendampingan menuju gerakan penerapan PTT (GP-PTT) 2015 dan koordinasi pengelolaan UPBS Balitbangtan di setiap BPTP dalam pengelolaan benih sumber serta penguatan networking antar UPBS lingkup Balitbangtan, Puslitbang Tanaman Pangan (Puslitbang TP) mengadakan acara “Evaluasi Pelaksanaan Pendampingan SL-PTT Padi, Jagung, Kedelai, dan Workshop Penyediaan Benih Sumber Kedelai” (27-30/9/2014). Workshop diikuti oleh 80 peserta terdiri Kepala BPTP, penanggung-jawab pendampingan SL-PTT Padi, Jagung, dan Kedelai dari 18 propinsi dan manajer UPBS BPTP dari 14 Provinsi.

Hasil evaluasi pelaksanaan pendampingan menunjukkan bahwa telah terjadi penurunan realisasi SL-PTT untuk padi dari 4,625 juta ha menjadi 3,89 juta ha,  yang berpengaruh terhadap capaian sasaran produksi nasional. Penurunan sasaran produksi juga disebabkan adanya penurunan luas tanam dari 260 ribu ha menjadi 205 ribu ha. Sementara itu sasaran produksi padi 2015 sebesar 73,4 juta ton (naik 5,1%) dengan produktivitas 5,21 t/ha (naik 1,17%). Dari sasaran produktivitas padi 2015, masih banyak provinsi yang sasarannya terlalu rendah (2,4-3,7 t/ha). Demikian pula dengan sasaran produktivitas jagung sangat bervariasi (1,6-7,5 t/ha). Untuk meningkatkan produktivitas padi dan jagung diperlukan adanya kontrak kinerja secara berjenjang. Kegiatan utama pada 2015 dalam pengembangan budi daya padi berbasis GAP dan GHP dilakukan dengan Gerakan Penerapan PTT (padi 350 ribu ha dan jagung 35 ribu ha). GP-PTT padi dilakukan dengan model kawasan (30 kabupaten) dan non kawasan (136 kabupaten), sedang untuk jagung kawasan (7 kabupaten) dan non kawasan (48 kabupaten). Biaya pengembangan legowo sebesar Rp 500,000/ha akan ditambahkan kepada biaya pendampingan kawasan yang akan dilakukan selama 3 tahun. Badan Litbang Pertanian (Balitbangtan) akan memberikan dukungan berupa rekomendasi teknologi spesifik lokasi per PPL/kecamatan, penyediaan benih sumber dan advokasi. Dukungan dari Badan Ketahanan Pangan adalah penganekaragaman konsumsi, pangkin, agroindustri aneka tepung berbasis bahan baku lokal.

Luas tanam kedelai tahun 2014 mencapai 742 ribu ha, dengan produktivitas 1,4 t/ha, dan produksi 1 juta ton. Pelaksanaan SL-PTT kedelai yang mencakup luasan 77,5 ribu ha berdampak positif pada peningkatan produktivitas. Permasalahan yang dihadapi dalam penyediaan benih kedelai adalah ketersediaan benih (6 tepat). Walaupun SL-PTT kedelai mampu meningkatkan produktivitas kedelai, namun belum mampu mengangkat produksi kedelai secara nasional. Pendekatan GP-PTT melalui pengembangan kawasan dan non kawasan diharapkan mampu meningkatkan produksi kedelai secara nasional. Pada tahun 2015, target SL-PTT kedelai 350 ribu ha, dengan produktivitas 1,5 t/ha diharapkan mampu menyumbang sebesar 1,023 juta ton. Namun demikian, masih terdapat kekurangan dalam SL-PTT kedelai yaitu volume terlalu besar sehingga paket teknologi tidak dapat dilakukan secara optimal dan keterbatasan dukungan penyediaan benih. Langkah-langkah yang perlu diambil adalah perluasan areal tanam (PAT), penyediaan benih dengan kaidah 6 tepat, pengaturan tata niaga, serta dukungan stakeholder pusat dan daerah. Dukungan benih dari Balitbangtan (FS, BS dan SS) sangat diperlukan untuk jaminan ketersediaan benih di lapangan.

Pendampingan SL-PTT padi, jagung dan kedelai 2014 dan rancangan GP-PTT dalam kawasan pada 2015 meliputi: penyediaan teknologi spesifik lokasi, benih sumber, dan materi diseminasi. Realisasi pendampingan SL-PTT dari BB Padi rata-rata 76,3%, Balitkabi 102,3% dan Balitsereal 98,6%.

Penyediaan benih sumber kedelai tahun 2015 perlu memperhatikan preferensi varietas. Realisasi produksi benih sumber kedelai tahun 2014 sekitar 73,2% dari target awal 118,270 ton, atau 87,61% dari target revisi. Realisasi produksi SS oleh BPTP baru 11,4% dari target awal 1.136.850 ton atau 28,80% dari target revisi sebesar 1.213.430 ton. Untuk tahun 2015 dibutuhkan benih sumber kelas BS 1.880 ton untuk menghasilkan benih FS sebanyak 31.800 ton sedangkan target produksi benih SS 774.000 ton. Oleh karena itu diperlukan perpanjangan surat penugasan dari Mentan.

Untuk mengatasi kekurangan benih padi, jagung dan kedelai akibat dari kemampuan penangkar lokal yang terbatas, akan dirancang dan dikaji Model Desa Mandiri Benih Tanaman Pangan. Pembiayaan dapat berupa bagi hasil, patungan atau talangan. Khusus untuk Jabalsim kedelai, prinsip yang perlu diperhatikan adalah varietas yang sesuai dengan preferensi dan ketersediaan benih yang memenuhi kriteria 6 tepat agar produktivitas dapat ditingkatkan. Pemberdayaan penangkar dalam model desa mandiri benih akan dapat menjamin penyediaan benih varietas spesifik lokasi. Model Mandiri Benih (MMB) padi telah melibatkan jejaring antara BB Padi-BPTP-penangkar, sedangkan untuk MMB jagung dan kedelai, perlu melibatkan BPTP.

Dalam pelaksanaan GP-PTT, tugas peneliti pendamping di lingkup Puslitbang TP (BB Padi, Lolittungro, Balitsereal dan Balitkabi) dalam pendampingan GP-PTT melalui pendekatan kawasan adalah: 1) menyediakan benih sumber padi, jagung, dan kedelai untuk gelar teknologi dan pemberdayaan penangkar di lokasi pengembangan Ditbudser; 2) melakukan pembinaan penangkar bersama BPTP; 3) menyediakan bahan penyebaran teknologi baru; 4) menjadi narasumber teknologi padi, jagung dan kedelai pada pelatihan peneliti/penyuluh BPTP di provinsi; 5) melakukan supervisi penerapan teknologi melalui kunjungan lapang minimal sekali dalam setahun bersama peneliti/penyuluh BPTP dan 6) memberikan saran pemecahan masalah pengamanan produksi.

Sedangkan tugas peneliti dan penyuluh BPTP dalam pelaksanaan GP-PTT meliputi: 1) gelar teknologi; 2) melaksanakan focus group discussion (FGD) pada awal musim tanam untuk pencapaian sasaran produksi; 3) menyediakan rekomendasi teknologi PTT spesifik lokasi hingga tingkat kecamatan; 4) menjadi nara sumber teknologi padi, jagung dan kedelai pada pelatihan penyuluh BPP; 5) menyediakan dan menjelaskan kalender tanam (KATAM); 6) melakukan supervisi penerapan teknologi (PHT, PTT); 7) melakukan kunjungan lapang minimal 1 kali/tahun bersama peneliti Balit komoditas; 8) melakukan supervisi penerapan teknologi dan saran pemecahan masalah di lapangan; 9) menjadi narasumber pada pelatihan  PL1-3 dan lainnya di kabupaten; 10) menyediakan dan menyampaikan publikasi teknologi sebagai materi penyuluhan/diseminasi dan 11) melakukan pembinaan penangkar benih. Sejalan dengan perubahan pendampingan dengan pola kawasan diperlukan revisi SK Ka Balitbangtan tahun 2014.

Sumber: Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan